TERAPI BERHENTI MEROKOK

perokokRokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Adapun penyebab utama kematian para perokok itu adalah kanker, penyakit jantung, paru-paru, stroke, dan gangguan stress di ruang perkantoran. Selain itu berdasarkan penelitian british medical journal ditemukan bahwa merokok membuat seseorang tidak panjang umur, karena merokok merupakan salah satu risky behavior (perilaku beresiko tinggi mengalami kecacatan dan kematian tinggi) yang dampak negatifnya terbukti meningkat dari waktu ke waktu di banyak Negara. Meningkatnya prevalensi tersebut menjadikan masalah rokok menjadi semakin serius. Hal ini sendiri mungkin disebabkan karena sebagian perokok di Indonesia telah menganggap merokok sebagai hal yang biasa bagi kaum muda dan merokok merupakan cara agar dapat diterima secara sosial.rokok

Merokok menurut Sitepoe adalah membakar tembakau kemudian dihisap rokoknya baik menggunakan rokok maupun pipa. Terdapat dua komponen saat asap rokok dihisap, yaitu komponen yang lekas menguap berbentuk gas dan komponen yang bersama gas terkondensasi menjadi komponen partikulat. Dengan demikian, asap rokok yang dihisap berupa gas sejumlah 85% dan sisanya berupa partikel. Asap yang dihasilkan rokok terdiri dari asap utama (main stream smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama adalah asap tembakau yang dihisap langsung oleh perokok, sedangkan asap samping adalah asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas, sehingga dapat terhirup oleh orang lain yang dikenal sebagai perokok pasif. Selain itu dalam rokok terdapat beberapa bahan kimia yang dapat meimbulkan efek negatif pada kesehatan, antara lain karbonmonoksida, nikotin, tar, dan berbagai logam berat lainnya.

Permasalahan merokok mempengaruhi tiga aspek dalam kehidupan, antara lain aspek sosial-ekonomi, aspek sosial, dan aspek moral. Masalah merokok menjadi persoalan sosial-ekonomi karena 60% perokok aktif berasal dari penduduk miskin atau ekonomi lemah yang sehari-harinya kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Dilihat dari aspek sosial dampak merokok dapat mempengaruhi keluarga, teman, dan rekan kerja dalam satu kantor. Sedangkan dari aspek moral perokok yang kecanduan terkadang mengambil atau meminta uang ayahnya, tetangganya, atau temannya untuk membeli rokok. Berdasarkan data yang terdapat di pengadilan 95% pelaku tindakan kriminal adalah perokok, sehingga Negara harus menanggung biaya hidup para tahanan di penjara. Menghentikan perilaku merokok tidaklah mudah, banyak yang sudah mencobanya tetapi gagal pada akhirnya. Hal ini dikarenakan para perokok yang sudah kecanduan rokok apabila pemakaiannya dihentikan biasanya mengalami “sindrom putus rokok” dengan gejala-gejala seperti mudah tersinggung, cemas, dan gangguan konsentrasi.

Penelitian ini dilaksanakan di kota Yogyakarta pada tahun 2004. Alasan khusus pemilihan lokasi ini adalah karena di wilayah tersebut banyak ditemukan perilaku merokok di kalangan anak di bawah usia 18 tahun. Berdasarkan lima persyaratan Spradley dalam menentukan informan yang “baik” dipilih tiga informan yang diberi kode A, B, dan C. Sedikitnya jumlah informan dikarenakan banyak yang tidak mengakui bahwa dirinya adalah seorang perokok berat. Saat ini ketiga informan bisa dikatakan sebagai mantan perokok dan memiliki pekerjaan tetap. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, karena sesuai dengan pengalaman masing-masing informan sebagai perokok yang berbeda satu sama lain. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Data ini berupa data deskriptif informan mulai mengenal rokok sampai kecanduan rokok. Selain itu diperoleh pula data mengenai proses berhenti merokok hingga peristiwa yang menyebabkan ia berhenti merokok.

Oleh karena itu metode berhenti merokok dalam penelitian ini mengacu pada pengalaman ketiga informan di atas, metode yang digunakan antara lain adalah:

-metode pengobatan (therapy)

metode ini digunakan oleh informan A dalam menghilangkan perilaku merokoknya. Di sini informan mencoba berhenti merokok dengan mencari pengobatan yang dapat menyembuhkan kecanduannya terhadap rokok. Obat yang dikonsumsinya berupa permen “antinik” yang berfungsi untuk menghilangkan nikotin dan tar dalam paru-paru.

-metode perubahan perilaku (changing behavior)

pada kasus informan B metode yang digunakan adalah metode perubahan perilaku, yaitu di mana informan merubah perilaku merokoknya tanpa obat-obatan. Di sini informan hanya berhenti saja melalui perubahan perilaku dengan menjauhi dan menghindari rokok. Karena itu metode ini sangat bergantung pada keinginan yang kuat dari dalam hati perokok itu sendiri.

-metode dorongan positif (positive encouragement).

metode ini digunakan pada kasus ketiga yang dialami oleh informan C. Di sini informan memasukkan pikiran dan perilaku positif dengan perilaku yang diinginkan. Dengan kata lain dia menata ulang pikiran bawah sadarnya dengan mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa dia berhenti merokok dan dia ingin hidup sehat.

Semua metode yang dipakai informan didasarkan pada niat yang kuat (strong will), karena tanpa niat yang kuat metode tersebut tidak akan pernah berhasil.

Keinginan untuk hidup sehat, panjang umur, terbebas dari gangguan kesehatan maupun penyakit mendorong perokok untuk terlepas dari penderitaannya. Alasan berhenti merokok bisa dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:

-faktor kesehatan

Faktor kesehatan yaitu munculnya gangguan-gangguan seperti hipertensi, nyeri dada, demam tinggi maupun batuk. Akibat metode pengobatan terkadang menyebabkan perokok merasakan lidah yang pahit dan rasa yang tidak enak setiap kali merokok. Sehingga timbulah perasaan malas untuk merokok lagi.

-faktor keluarga

Penolakan anggota keluarga terhadap perokok mengakibatkan ada usaha keras untuk berhenti merokok. Selain itu faktor keluarga sebagai alasan berhenti merokok termasuk keprihatinan melihat anak dan istri yang mengikuti jejaknya sebagai perokok serta adanya balita di rumah yang akan terkena pengaruh negatif asap rokok.

-faktor organisasi keagamaan

Faktor organisasi keagamaan juga memotivasi perokok untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Sebagai contoh ajaran Islam secara umum telah membuka wawasan informan atas ajaran dan peraturan agama secara benar. Informasi yang diperoleh secara lengkap dari ajaran agama islam bahwa kebiasaan merokok merupakan kesenangan yang tidak ada manfaatnya, membuang uang, dan dianggap berteman dengan setan itu mampu menyadarkan informan untuk lebih taat pada aturan agama daripada mengikuti keinginan hawa nafsunya.

Kasus-kasus mantan perokok dalam penelitian ini menunjukkan bahwa umumnya mereka mengalami kesulitan untuk berhenti merokok. Kesulitan muncul berasal dari faktor perokok itu sendiri, keluarga perokok, teman perokok maupun lingkungan para perokok. Bahkan kekurangtahuan akan informasi medis dalam pelayanan kesehatan khususnya terapi berhenti merokok juga dialami ketiga kasus di atas. Setelah berhenti merokok, maka akan ada perubahan yang terjadi ada tubuh mantan perokok yaitu withdrawal symptoms (gejala penarikan kembali). Bagaimanapun juga rokok dan nikotin adalah zat yang membuat seseorang ketagihan. Berhenti merokok sesungguhnya merupakan perpindahan dari keadaan ketagihan menuju kebebasan.

Ketiga mantan perokok ini mengakui bahwa setelah merokok banyak perubahan yang dialaminya terutama perubahan fisik. Berikut merupakan dampak-dampak yang dialami oleh para informan setelah berhenti merokok:

-tubuh menjadi lebih gemuk dari sebelumya, karena faktor ngemil.

-merasa dirinya lebih sehat dan tidak mudah sakit-sakitan lagi

-keuangannya lebih stabil karena tidak digunakan untuk membeli rokok lagi.

Keluarga mempunyai peran yang sangat besar akan keberhasilan seseorang berhenti merokok. Karena ketiga informan semuanya laki-laki, maka keluarga di sini yang dimaksud adalah istri, anak, orangtua laki-laki, mertua laki-laki, saudara kandung baik dari laki-laki maupun perempuan, dan kerabatnya yang lain. Tanpa adanya dukungan dari keluarga sangatlah sulit bagi perokok untuk mempertahankan motivasinya untuk menghilangkan kebiasaan buruknya.

Banyak orang mengatakan bahwa kenikmatan merokok sangat menyenangkan. Banyak pula orang mengatakan sulit sekali untuk meninggalkan kebiasaan atau lebih tepatnya kecanduan rokok. Mengapa dikatakan kecanduan, karena kebiasaan ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja dan harus dipenuhi jika diinginkan serta rasa nikmat yang diburu. Padahal semua masyarakat dan khususnya perokok itu sendiri tahu benar bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan khususnya paru-paru dan jantung, namun mereka masih tetap merokok. Inilah yang mempertegas bahwa merokok masuk dalam kategori kecanduan zat tertentu (nikotin) untuk menimbulkan rasa nikmat yang dalam bagi pecandunya. Sangatlah penting untuk memiliki tekad yang serius agar menolak semua ajakan dan keinginan untuk merokok. Hal ini dikarenakan dari titik inilah kita dapat mawas diri (kontrol diri) dalam setiap tindakan, khususnya ketika mengalami kecanduan rokok. Jadi, tetaplah yakin bahwa kecanduan rokok mampu dihentikan dan tetap ingatlah selalu pada prinsip hidup yang benar, yaitu untuk tidak merokok dan memiliki pola hidup yang sehat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: